Tarian Ilalang dari Kedaton

Jumat, Mei 29, 2009 Edit This 0 Comments »
by : Dian Rennuati, Palembang
(Pemenang Harapan LMCPI VII Annida 2005)

Meninggalkan Kedaton dan Pergi jauh. Hanya itulah keinginan Dawa. Bukan karena ia tak cinta dengan mak dan ayahnya. Bukan karena ia tak cinta dusun tempat dia dilahirkan. Bukan juga karena ia ingin seperti Risnah yang pulang kampung membawa sebua mobil mewah dan seorang laki-laki kaya. Bukan karena itu. Semua karena ia tak ingin hanya menjadi ilalang liar yang menyemak di dusun kecil ini.

***

Subuh yang pekat dengan titik air. Seperti juga hari-hari yang lain, ketika telapak kakinya menginjak tanah basah dan mematahkan batang-batang rumput. Ranting berserakan di hadapannya, menunggu giliran terinjak. Di kepalanya terbalut kain batik panjang, tempat bertumpu tali rotan yang bersambung ke keranjang di punggungnya. Di depan sana bayangan Mak samar. Kaki Mak lebih lebar dan terlatih. Dawa harus berpeluh banyak untuk mengimbanginya. Masih jauh ke hutan karet. Ia tak boleh banyak mengeluh, supaya energinya tak terbuang percuma.

“Gancanglah dikit!” Mak berseru tak sabar. “Lah terang hari ni.”

Tak perlu dijawab. Dawa hanya perlu memanjangkan langkah. Menaikkan frekuensi napas hingga tersengal. Meninggalkan denyut nadi hingga mencapai angka seratus. Hingga sampai...

Batang-batang karet yang dirindui sekaligus dibencinya mulai tampak. Dirindui, karena melihatnya berarti dia bisa mengistirahatkan otot kakinya sejenak. Dibenci, karena batang-batang tinggi itulah yang harus ditemuinya sepanjang hari. Dedaunan berguguran ke tanah ketika angin mempermainkan ranting-ranting pohon. Sebagian mengenai mukanya lalu luruh ke kaki. Sinar benderang mulai tampak di ufuk timur.

“Kres!” celurit Mak mulai menggores batang demi batang di depannya. Tampak menyembul cairan putih kental yang perlahan mengalir ke bawah, menuju batok-batok kelapa yang telah dipasang seperti mengkuk di sana. Satu. Dua. Tiga....

“Apo gawe ngan? Menung kian guk patung!”

Dawa tersengat. Hati gadis muda itu mengkerut marah. Marah pada batang tinggi di hadapannya. Sampai kapan dia harus menjadi petani miskin di sini? Keras, dihujamkannya celurit di tangannya. Sungguh, pada saatnya nanti akan kutebang semua pohon karet ini.

***

Petang lah petang ke mane aku
Ambek kusekan di pucuk meja
Petang lah petang kemane aku
Dunie umbang dek bebada

“Sudah petang, kawanku,” Dawa mengingatkan. “Kite balek sekarang. Mak nanti marah.”

Risnah tertawa kecil. Lesung pipit di pipinya tampak dalam, sedalam suaranya. “Indah sekali petang ini. Sebentar lagi lah,” rajuknya.

Dawa menghela napas panjang. Hari ini mungkin hari terakhir dia bercengkerama bersama Risnah. Kalau toh lain kali mereka bertemu, suasananya sudah takkan sama lagi. Besok, teman masa kecilnya itu akan dibawa pergi oleh suaminya. Sang Tuan Kaya Raya yang baru seminggu menikahi Risnah.

Dalam diam, Dawa memandang paras kawannya itu lekat-lekat. Kulit wajah yang putih dan halus. Mata yang hitam bundar. Alis tipis terbentuk rapi. Dari jarak dekat, samar tampak bekas cukuran. Bibir merah merekah. Hidung mancung yang terangkat. Seingat Dawa, dulu hidung itu sama saja dengan hidung yang bertengger di wajahnya.

“Kenapa kau, Dawa? Ada yang aneh dengan wajahku ya?”

“Ngan cantik,” puji Dawa.

“Kau juga cantik.”

“Tidak. Cantikmu itu berbeda.” Aku takut melihat perubahan wajahmu.

Tanpa suara, Risnah tertawa. Giginya yang putih menyembul di antara celah bibir. “Eh, kau mau ikut aku ke Palembang?”

Tersentak oleh pertanyaan itu, Dawa menjawab gagap. “A... aku tak bisa.”

“Kenapa?”

“Mak dan Ayah. Mereka tak akan memberi izin. Sama seperti dulu, waktu aku minta izin melanjutkan sekolah. Aku ini gadis dusun, Kawan. Selama-lamanya aku akan terkurung di sini, memandangi kebun kopi. Juga menampas para,” getir nada suara itu.

“Huh. Apa kau mau seperti itu? Selamanya?”

“Aku tak punya pilihan.”

“Oh ya, kau punya.”

“Mau apa aku di kota?”

“Kau bisa bekerja seperti aku. Aku akan mengurusmu.”

“Sebenarnya, apa yang dulu Ngan kerjakan di kota?” Kau demikian berubah, sampai hampir tak kukenali lagi.

“Aku melamar kerja di pabrik mie instant. Di sana aku bertemu Roy. Dia pemilik pabrik.”

Logat Kedatonmu hilang. Aku yakin kau tidak lupa dengan bahasa ibu kita. Tetapi gaya bicaramu sekarang sudah seperti artis-artis di televisi. Membuat aku merasa asing.

“Kau bisa memulai seperti aku. Sayang, Wa. Ijazah SMP-mu tak akan berguna di sini. Paling-paling kau akan menjadi penampas Para, lalu menikah dengan pria dusun.” Risnah mencibir. “Tinggallah di rumahku,” bujuknya lagi.

“Ngan sudah bersuami. Aku tak mungkin tinggal di rumahmu. Mengganggu saja.”

“Tak apa,” Risnah memandang dengan mata berbinar. “Rumahku, eh, rumah suamiku besar sekali. Dua orang yang tinggal di sana bisa saja tidak saling menyadari kehadiran yang lain jika tidak diberi tahu.”

“Lalu, kenapa Ngan ditinggal di sini?”

“Aku akan dijemput besok. Suamiku pulang lebih dulu. Ada urusan bisnis katanya,” Risnah tersenyum kecil. “Tapi aku tahu, alasan sebenarnya adalah untuk menyiapkan kejutan untukku.”

Kejutan? Lelaki itu kembali ke Palembang dua hari yang lalu, meninggalkan istrinya di Kedaton hanya untuk merancang kejutan untuk istrinya? Dawa terbayang lelaki itu. Tubuh yang tinggi besar, dengan jas rapi. Usianya pasti jauh di atas Risnah, walaupun penampilannya seperti anak muda. Ada sesuatu yang tidak menyenangkan dengan pria itu. Sesuatu yang tidak jelas aku ketahui. Kenapa kesan itu yang aku tangkap?

Pandangan Dawa menerawang ke ufuk barat. Senja yang merah. Burung-burung mulai berterbangan kembali ke sarangnya. Pepohonan hijau mulai berbayang gelap. Udara di bukit kecil tempat dia duduk semakin berangin, membuat ilalang yang menyemak di sekitar mereka bergoyang. Menggigil. Sudah saatnya pulang, batin Dawa. Saat itulah terdengar deru mesin mobil, disusul bayangan mobil sedan mendekat. Setelah mobil itu berhenti di tepi jalan menanjak, pintunya terbuka. Seorang penumpang di dalamnya turun. Dawa merasakan tubuh Risnah menjadi tegak.

“Itu Roy! Wah, bukankah dia baru besok akan datang? Dia benar-benar membuat kejutan untukku.”

Sosok itu makin mendekat dengan senyum lebar. Dia menyeringai padaku. Pandangan mata itu liar seperti...

“Di sini rupanya bidadariku. Aku tadi dari rumah bapakmu. Katanya kau pergi dengan teman akrabmu dulu.”

Teman akrab...ya! Dulu kau adalah teman akrabku. Apakah sekarang kau masih teman akrabku? Kita dulu merajai peringkat juara di SD dan SMP. Kita dulu tak pernah berpisah sampai kau tiba-tiba memutuskan untuk merantau ke Palembang.

“Kapan kau sampai?” suara Risnah manja.

“Sudah agak lama, Darling. Aku sengaja membiarkan kau berkangen-kangenan dengan temanmu. Sudah lima tahun ya, kalian tak saling jumpa?”

Matanya mengerling padaku...

“Ini temanmu yang datang di hari pertama kita sampai kan? Kami belum sempat berkenalan,” pria itu mengulurkan tangan.

Dawa tidak menyambutnya. Mulutnya hanya bisa berucap, “Eh...”

Risnah mengakak. “Roy, dia ini dak pernah mau berjabat tangan dengan laki-laki.

Kau masih ingat rupanya. Bukankah dulu kau juga begitu? Kita menuruti kata Cak Mai, guru mengaji kita dulu.

“Benarkah? Gila, aku lupa kalau tempat ini masih menganut adat istiadat kuno.” Roy pura-pura terkejut, menutup mulutnya dengan kesepuluh jari. Jemari itu penuh cincin kuning bermata jeli. Menyilaukan.

“Ayolah kita pulang,” Risnah menyambut tangan penuh cincin itu.

Mereka bertiga pulang bersama. Sepanjang perjalanan, Dawa hanya diam sementara Risnah dengan semangat masih berusaha mengubah keputusannya. Dawa diturunkan di depan rumahnya, tak jauh dari rumah orang tua Risnah.

Dari dalam mobil sedan yang kini dijauhinya, tanpa disadarinya dua pasang mata mengamati. Mata dua orang pria. Roy dan supirnya.

“Ayu dan alami. Original...” seulas senyum tipis tersungging di bibir salah seorang lelaki. Yang lain mengangguk setuju.

“Aduhai, Bos. banyak yang cari tipe seperti itu.”

Di belakang, Risnah asyik memandang burung-burung dan senja merah yang mulai menghitam. “Sayang, kita pulang sekarang atau besok?”

***

Subuh yang pekat dengan titik air. Matahari akan terbit nanti, tapi tidak sekarang. Dawa mengayunkan langkah dengan berat. Pergi dari Kedaton. Tawaran yang menggiurkan. Dia tak lagi harus bergegas tiap subuh. Bisa lebih lama bercengkerama dengan sajadah dan mukenanya, menyambung tilawah sampai mentari dini muncul. Tidak harus berjalan jauh ke hutan karet untuk menorehkan luka di batang-batang kurus itu.

Derak ranting patah mengiringi langkah Dawa. Seandainya dia bisa pergi ke kota, dia tak ingin menjadi seperti Risnah. Dia ingin menjadi seperti ibu Lili, kepala sekolah di SMP-nya dulu. Ibu Lili juga dari kota. Lulusan universitas. Ibu Lili dulu selalu memuji nilai-nilainya. Ibu Lili selalu mengatakan kalau setiap orang punya hak untuk melanjutkan pendidikan. Setiap orang, bukan hanya anak laki-laki.

Mak dan Ayah tak setuju. Anak perempuan, sekolah tinggi mau apa? Tak perlu sekolah untuk bisa hamil dan melahirkan. Jika ada di antara tujuh anaknya yang pergi melanjutkan sekolah ke kota, dia pasti salah satu dari tiga adik laki-lakinya. Adik laki-lakinya! Padahal mereka bertiga masih duduk di bangku sekolah dasar. Masih lama untuk sampai ke jenjang SMU.

Kalau saja ada jalan lain. Jalan yang akan membawanya menuju bangku sekolah lanjutan. Jalan yang akan memuaskan keingintahuan yang bergelora di dadanya tentang bagaimana wujud tempat Bu Lili kuliah dulu. Bu Lili dulu pernah berjanji akan mengusahakan beasiswa untuknya. Janji yang tak kunjung ditepati sampai dia tamat SMP. Tak ada penerimaan beasiswa, kata Bu Lili dengan pandangan sedih. Tak ada. Karena itulah dia berada di sini, menjadi penampas Para bersama Mak.

Adakah jalan itu? Jalan yang akan menjadikannya sebatang pohon yang berbuah lebat lagi manis, yang akarnya menghujam di tanah Kedaton dan puncaknya melangit hingga angkasa. Pohon rindang tempat berteduh Ayah, Mak, dan keenam adiknya. Buah ranum dari pohonnya akan mengalirkan energi buat seluruh penghuni dusun. Jika dia berhasil menjadi orang 'besar', dia bisa mengaspal seluruh jalan di sini. Dia juga akan membelikan mobil untuk dipakai seluruh penghuni dusun untuk menjual hasil kebun ke kota. Pasti harganya akan menjadi lebih mahal. Uang mereka juga akan lebih banyak. Hanya itu yang dia inginkan.

Menjadi seperti Risnah? Memiliki harta berlimpah dan hidup bahagia? Apakah Risnah bahagia? Yang terakhir sangat disangsikan. Dawa bergidik. Kemarin malam, selepas isya, suami Risnah menemuinya hanya untuk menawarkan bantuan keluar dari Kedaton. Tinggal di Palembang menemani Risnah yang katanya sering kesepian. Sepanjang pembicaraan, matanya yang liar menjelajah tubuh Dawa seolah ingin melumatnya. Saat kata “tidak” terucap dari mulut Dawa, pria itu mencoba menjamah tangannya. Mengingat itu semua, Dawa mengelus tangannya sendiri. Tangan kanannya yang kemarin telah menginggalkan bekas tamparan di wajah Roy.

Derak ranting masih terdengar di bawah kakinya. Cuma derak itu yang menemani perjalanannya. Kaki Mak terkilir kemarin sore saat akan mengambil air di sungai. Adik-adiknya yang lain ada yang sekolah, ada yang pergi ke kebun kopi bersama Ayah. Bayang-bayang suram di sekitarnya mulai pudar ditimpa cahaya matahari. Burung-burung mulai bernyanyi menyemarakkan subuh yang menjelang. Sebentar lagi dia sampai.

Sebentar lagi...langkahnya terhenti. Ada yang lain. Ada derak langkah lain di belakangnya. Langkah diiringi dengus napas berat dan hawa napsu dendam. Dawa berbalik. Matanya silau oleh pantulan mentari di deretan cincin bermata jeli. Cincin itu berderet di jemari seorang lelaki.

“Manis, kita nikmati dulu pagi yang indah ini,” suara dari nereka mengoyak hatinya. Mungkin sebentar lagi...tubuhnya.

Aku tak kan pernah sampai di Palembang. Aku tak akan sempat menjadi pohon besar rindang berbuah lebat. Aku juga akan berhenti menjadi ilalang liar. Aku akan mempertahankan diri, kalau perlu sampai tak berdarah lagi.

Dawa meraba gagang celurit yang terselip di keranjangnya. Biarlah...

Plg, 21 “06” 05

Keterangan:
Gancanglah dikit! : Cepatlah sedikit
Lah terang hari ni: sudah terang hari ini
Apo gawe ngan? Menung kian guk patung!: Apa kerjamu? Termenung saja mirip patung.
Ngan: Kamu
Menampas Para: menyadap karet

tentang sebuah kebaikan

Jumat, Mei 29, 2009 Edit This 0 Comments »
Besi itu kuat, tetapi api dapat melelehkannya
Api itu kuat, tetapi air mampu memadamkannya
Air itu kuat, tetapi matahari bisa mengalahkannya
Matahari itu kuat, tetapi awan dapat menghalanginya
Awan itu kuat, tetapi angin mampu memindahkannya
Angin itu kuat, tetapi manusia mampu menahannya
Manusia itu kuat, tetapi ketakutan bisa melemahkannya
Ketakutan itu kuat, tetapi tidur bisa mengatasinya
Tidur itu kuat, tetapi mati ternyata lebih kuat
Terkuat adalah kebaikan, ia takkan hilang setelah mati.

So...fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan ) ok 

Hati Yang Sehat

Rabu, Mei 27, 2009 Edit This 0 Comments »
Saudaraku, ajaklah segera hati ini meninggalkan dunia ini dan berpindah ke akhirat, tempatkan hati ini diakhirat sehingga seakan kita adalah penduduk negeri akhir itu. Anggaplah kehadiran kita di dunia fana ini hanya sebagai orang asing, yang singgah sesaat sebelum kembali meneruskan perjalanan ke alam akhirat. Rasulullah manusia agung pun pernah mengingatkan kita bahwa; “Jadikanlah dirimu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang sedang menyeberangi suatu jalan.”(HR. Bukhari)

Sadarilah saudaraku, semakin manusia mengejar dan menyibukkan diri dengan urusan dunia, itu pertanda semakin parah penyakit yang bersarang di hatinya. Ia memandang dunia seolah tempat hidup yang kekal dan abadi. Sungguh tidak demikian saudaraku, kita hanya singgah sesaat disini.

Saudaraku, jangan biarkan kita lupa atau melepaskan diri dari dzikrullah dan tilawah Al Qur’an atau bentuk ibadah lainnya. Sedetik saja kita meninggalkannya, tentu kita akan merasakan sakit yang teramat sangat melebihi rasa sakit saat kehilangan sebagian harta dan benda kesayangan kita.

Banyak orang-orang yang teramat rindunya dengan orang yang disayanginya, namun sudahkah kita merindukan kebersamaan kita dengan Allah, merindukan untuk mengabdi kepada Allah seperti rindu kepada orang yang disayang itu. Rindu seperti yang pernah digambarkan Yahya bin Mu’adz: “Barangsiapa merasa senang dan damai berkhidmat kepada Allah, maka segala sesuatu pun akan senang berkhidmat kepadanya, dan barangsiapa tentram pandangannya (mata batinnya) karena Allah, maka tentram pula yang lainnya ketika melihat orang seperti ini.”

Yang seperti ini saudaraku, tentu karena ia menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam hidupnya.

Saudaraku, ukurlah kesehatan hati kita saat menghadapkan diri ini kepada Allah dalam sholat. Pernahkah merasakan kenikmatan dan kesejukan jiwa yang begitu suci dalam setiap sholat kita sehingga menghilangkan segala gundah akan kenikmatan dunia yang serba semu. Jika jawabannya adalah Ya, maka berbahagialah.

Selain itu saudaraku, sudah seharusnya kita sadar bahwa waktu berlalu begitu singkat dan cepat, mereka tidak akan pernah kembali jika sudah terlewati. Maka, hargailah setiap waktu yang kita miliki dan tidak menyia-nyiakannya sehingga kita tidak tergolong orang-orang yang merugi.

Janganlah terputus dan malas akan mengingat Allah, utamakan kualitas amalan daripada kuantitasnya, ikhlaslah dalam beramal, ikutilah petunjuk syariat Rasulullah dalam berbuat (mutaaba’ah) serta ihsan dalam beribadah. Disamping itu, renungkan juga segala bentuk karunia yang Allah berikan, kaji ulang setiap ketidakmampuan kita dalam memenuhi hak-hak Allah.

Saudaraku, jika kita sudah merasakan dan melakukan semua hal diatas yang menandakan sehatnya hati ini, bolehlah kita tersenyum. Namun jika tidak, sebaiknya perbanyaklah menangis karena sungguh hati ini seperti membatu, segeralah benahi hati ini agar kembali sehat detik ini juga, sebelum detik berikutnya Izrail menghampiri kita tanpa tersenyum.
Wallahu a’lam bishshowaab.

attention please...

Senin, Mei 11, 2009 Edit This 0 Comments »
iqro club banjarmasin rencana nya mo ngadakan acara buat memperingati hari pendidikan..buat kmoe2...siap2 aza ya :)insyaallah akan ada informasi lengkap nya nyampe ke skul kamoe
so..check it out..

kejarlah kebaikan sampai ke liang lahat

Jumat, Mei 01, 2009 Edit This 0 Comments »
Waktu adalah ladang amal. Allah swt. menyediakannya agar kita menggunakannya sebagai modal penting menggapai ridha-Nya. Keutamaan seseorang di sisi Allah, selain ditentukan oleh keimanan dan amal shalihnya adalah faktor keterdahuluannya dalam keimanan dan amal shalihnya. Tidaklah sama antara orang-orang yang terdahulu masuk Islam -As-Sabiqunal Awwalun- dan orang-orang yang belakangan. Tidak sama antara jamaah yang berada di shaf awal dalam shalat dengan yang berada di barisan paling belakang. Berbeda derajat orang yang hadir di shalat Jumat paling awal dengan yang paling akhir.
Saudaraku…

Menyegerakan amal, itulah ajaran Islam kepada ummatnya. Dalam sebuah kesempatan Rasulullah saw. menasihati para sahabatnya untuk selalu menyegerakan amal saleh, kendati mereka itu manusia-manusia yang teruji keimanannya. Kata Nabi kala itu,
“Bersegeralah melakukan amal-amal saleh (kebajikan). (Sebab) sebuah fitnah akan datang bagai sepotong malam yang gelap. Seseorang yang paginya mukmin, sorenya menjadi kafir. Dan seseorang yang sorenya bisa jadi kafir, paginya menjadi mukmin. Ia menjual agamanya dengan harga dunia.” (H.R. Muslim)

Demikian pesan Nabi saw. mulia itu juga disampaikan untuk kita. Adakah di antara kita yang selama sehari semalam penuh menjadi seorang mukmin sejati? Bisakah dan mampukah kita selama 24 jam tidak melakukan dosa dan sikap kufur, sekecil apapun kepada Allah Taala? Padahal ketika Allah swt. memberikan waktu 24 jam sehari, transaksinya adalah untuk dipersembahkan kepada Allah swt. semuanya. Pada setiap shalat kita selalu mengumandangkannya kepada Allah.

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162)

Bukankah ketika kita tidak berempati atas nasib kaum lemah dan tertindas adalah bentuk kekufuran terhadap nikmat? Bukankah di saat kita tidur dan bangun tidur tanpa mengingat Allah, tanda kita lupa kepada-Nya? Bukankah lupa adalah bagian dari kekufuran kita kepada Sang Khaliq?

Saudaraku…

Sesungguhnya fitnah itu lebih cepat bergerak. Sekali kita membiarkannya maka selanjutnya ia akan bersemayam dan berkembang dalam tubuh kita. Begitu cepat dan samarnya sampai menjadikan orang pindah agama, menggadaikannya dengan sedikit kesenangan dunia

Wajar jika sampai-sampai Rasulullah saw. mengingatkan para sahabatnya itu, walau Nabi tahu keimanan para sahabat itu tak akan tertandingi oleh orang-orang sesudahnya.

Dengan apa kita menutup pintu fitnah? Ya, dengan amal shaleh. Apa saja dalam hidup orang beriman bisa menjadi amal kebaikan. Kita membuang sampah pada tempatnya itu amal baik. Berniat tidak bohong itu amal mulia. Mengucapkan salam kepada kawan itu amal yang terpuji. Mendo’akan saudara seiman kendati mereka tak tahu juga amal shaleh. Dan masih banyak lagi amal shaleh, amakl kebajikan yang bisa kita lakukan, sekalipun kita tak memiliki sesuatu.
“Orang-orang kaya pergi mendapatkan pahala. Mereka shalat sebagaimana kita shalat, mereka puasa sebagaimana kita puasa. Namun mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Rasulullah bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya satu tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan pada hubungan (dengan istri) kalian adalah sedekah.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah seseorang mendatangi istrinya karena syahwatnya, apakah ia mendapatkan pahala?” Beliau bersabda, “Apa menurut kalian kalau dia meletakkannya pada yang haram. Bukankah baginya dosa? Demikian pula jika diletakkan pada yang halal, padanya ada pahala.” (Bukhari Muslim)

Allah swt. dengan keadilan-Nya memberikan peluang amal kepada masing-masing hamba-Nya. Baik orang miskin maupun kaya, masing-masing memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan kebajikan dan mendapatkan ridha Allah. Lebih dari itu, suatu amal tidak dilihat dari kuantitasnya, tapi dilihat dari motivasi dan niatnya. Kualitas amal seseorang tergantung kepada motivasi dan niatnya.

Saudaraku…

Boleh jadi infak seorang buruh sebesar 1000 rupiah, itu sama nilainya dengan infak seorang direktur sejumlah Rp. 1.000.000.000,00. Seorang murid barangkali lebih mulia dengan seorang gurunya, karena si murid lebih sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Sementara sang guru merasa cukup dengan ilmunya.

Menyegerakan amal kebajikan tentu akan memberi nilai tambah bagi pelakunya sendiri. Menyegerakan berbuat baik berarti mempercepat dirinya mendapatkan ampunan (maghfirah) dari Allah. Kenapa? Sebab, kita telah berupaya menutup pintu-pintu kemungkaran dan kebatilan. Dengan demikian pula, Allah akan membukakan kebahagiaan, yakni, surga. Itu semua hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang bertaqwa.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran:133)

Mengapa kita mesti menyegerakan amal?

1. Karena asset waktu yang kita miliki hanyalah saat ini. Apa yang terjadi nanti dan esok hari kita tidak tahu. Kemarin bukan lagi milik kita, ia telah berlalu dan tidak akan kembali lagi. Kebaikan dan keburukan yang kita kerjakan kemarin tidak bisa kita ulang lagi. Ia menjadi kenangan saat ini. Jika kebaikan, bersyukurlah kita, dan jika keburukan menyesallah bersama orang-orang yang menyesal. Masih beruntung jika kita bersyukur hari ini, bukan saat di mana penyesalan tidak ada artinya lagi. Esok hari juga belum menjadi milik kita, ia ada di alam gaib yang hanya Allah swt. yang tahu. Kita tidak tahu apakah esok hari masih bisa menghirup udara pagi?

2. Karena amal kita tidak mungkin dikerjakan orang lain. Masing-masing orang akan datang kepada Allah dengan amal perbuatan yang dikerjakannya sendiri di dunia. Keshalihan orang tua tidak bisa diandalkan anaknya. Seorang suami tidak akan selamat dari murka Allah karena amal perbuatan istrinya. Kita boleh bangga terhadap pemimpin, orang tua, anak, guru, dan suami atau istri kita karena keshalihan mereka. Kebanggaan kita tidak bisa berbicara banyak di hadapan pengadilan Allah swt.

3. Karena kemuliaan derajat seseorang di sisi Allah swt. disebabkan oleh kesungguhannya dalam merespon seruan kebajikan dan mengamalkannya. Orang tua akan senang jika menyuruh anaknya mengerjakan sesuatu lalu dikerjakan segera. Sebaliknya ia akan marah jika si anak menunda-nunda mengerjakannya. Demikian pula Allah Ta’ala. Seruan kebajikan dikumandangkan untuk segera diamalkan.

4. Karena setiap waktu ada momentnya sendiri. Setiap waktu ada tuntutan amalnya. Banyak sekali amal perbuatan yang sangat terkait dengan waktu. Yang ketika waktunya berakhir, berakhir pula kesempatan untuk mengerjakannya. Seperti shalat, puasa, haji, berkurban, dan lain sebagainya.

5. Kesempatan beramal juga diberikan kepada seseorang pada waktu-waktu tertentu. Orang kaya diberi kesempatan beramal dengan kekayaannya. Orang berilmu diberi kesempatan beramal dengan ilmunya. Seorang pimpinan diberi kesempatan beramal dengan kekuasannya. Jangan sampai Allah swt. mencabut kesempatan itu dan tidak bisa lagi berbuat. Kesehatan, waktu luang, hidup, masa muda, dan kekayaan adalah kesempatan untuk beramal.

Saudaraku…

Tidak ada waktu lagi untuk berpikir. Saat inilah waktumu. Segeralah beramal sesuai dengan tuntutan waktunya. Kejarlah kebajikan sampai ke liang lahat. Wallahu A’lam.